Seorang kaligrafer dituntut untuk senantiasa berlatih secara terus-menerus agar kemampuannya tetap terjaga dan semakin meningkat. Keterampilan kaligrafi bukanlah kemampuan statis; ia hidup, berkembang, dan sekaligus bisa melemah. Sebagaimana ungkapan yang dinisbahkan kepada Yaqut al-Musta‘shimi:
“Keahlian kaligrafi itu menguat dengan ketekunan dan melemah bila ditinggalkan.”
Latihan menjadi kebutuhan mutlak. Namun menariknya, latihan kaligrafi tidak selalu mensyaratkan pena dan kertas. Dalam kondisi tidak membawa alat tulis pun, seorang kaligrafer tetap dapat berlatih—yakni dengan melihat, mengamati, dan membayangkan.
Latihan semacam ini dikenal dengan istilah Tamrin Bashori.
Apa itu Tamrin Bashori?
Tamrin Bashori bukanlah nama seorang tokoh, melainkan sebutan untuk sebuah metode latihan.
Tamrin berarti latihan, sedangkan bashori berarti pandangan. Dengan demikian, Tamrin Bashori bermakna latihan melalui penglihatan.
Metode ini merupakan latihan pendukung, bukan pengganti latihan utama. Caranya adalah dengan:
- Mengamati karya kaligrafi atau proses menulis orang lain,
- Membayangkan alur huruf, tekanan pena, dan ritme gerakan,
- Kadang disertai dengan menggerakkan tangan di atas meja atau di ruang hampa, seolah-olah sedang menulis.
Latihan ini pada hakikatnya adalah latihan melalui simulasi mental.
Kisah Praktik Tamrin Bashori
Kaligrafer Indonesia Didin Sirajuddin AR pernah menceritakan dalam salah satu bukunya, bahwa ketika beliau masih mondok di Gontor, ia sering menggerakkan jarinya di atas sajadah. Sekilas tampak seperti gerakan tanpa makna, padahal sejatinya beliau sedang berlatih kaligrafi—menulis di dalam pikiran, sebelum menulis dengan pena.
Ini menunjukkan bahwa latihan kaligrafi tidak selalu bersifat fisik, tetapi juga kognitif dan mental.
Tamrin Bashori dan Simulasi Mental
Tamrin Bashori, mungkin dekat dengan apa yang disebut dalam ilmu psikologi dan neurosains modern, sebagai : mental simulation, mental imagery, visualization training
Metode ini bukanlah hal baru. Ia telah lama digunakan, terutama oleh para atlet. Bagi atlet, latihan mental bertujuan untuk:
- Mengurangi potensi cedera,
- Menguatkan ingatan gerak,
- Mempersiapkan performa sebelum tampil.
Seorang atlet senam, misalnya, tidak hanya berlatih secara fisik. Ia juga membayangkan rangkaian gerakan yang akan dilakukan, mensimulasikannya berulang kali di dalam pikiran, hingga tubuh “mengenalnya” dengan baik.
Prinsip yang sama berlaku dalam kaligrafi.
Kaligrafi sebagai Geometri Ruhani
Dalam tradisi kaligrafi Arab klasik, dikenal ungkapan yang sangat masyhur dan dinisbahkan kepada Yaqut al-Musta‘shimi:
الْخَطُّ هِنْدَسَةٌ رُوحَانِيَّةٌ ظَهَرَتْ بِآلَةٍ جِسْمَانِيَّةٍ تَقْوَى بِالْإِدْمَانِ وَتَضْعُفُ بِالتَّرْكِ
“Kaligrafi adalah geometri yang bersifat ruhani. Ia tampak melalui alat jasmani. Ia menguat dengan ketekunan dan melemah jika ditinggalkan.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa hakikat kaligrafi hidup di dalam pikiran. Huruf-huruf hadir terlebih dahulu sebagai gambaran mental, bukan sebagai goresan fisik. Tangan dan pena hanyalah alat eksekusi dari sesuatu yang telah matang di kepala.
Karena itu, seorang kaligrafer yang benar-benar terlatih tetap memiliki kemampuan menulis meskipun mengalami keterbatasan fisik. Kisah Ibnu Muqlah menjadi contoh yang sering dikemukakan. Meski tangannya dibuntungi akibat intrik politik dan kedengkian, ia tetap mampu menulis—bahkan dengan mulutnya—karena konsep huruf dan proporsinya telah tertanam kuat dalam pikirannya.
Menulis Sebelum Menulis
Dalam praktiknya, seorang kaligrafer :
- Menulis di dalam pikiran sebelum tinta menyentuh kertas,
- Membayangkan alur huruf, tekanan pena, dan irama tangan ketika mengamati contoh,
- Menyusun komposisi tulisan secara utuh di kepala sebelum satu goresan dibuat, terutama saat mencipta karya orisinal.
Karena itu, dalam tradisi kaligrafi Arab dikenal ungkapan pedagogis:
التَّصْوِيْر قَبْلَ التَّحْرِيْر
Membayangkan sebelum menulis.
Tamrin Bashori mengajarkan bahwa latihan kaligrafi bukan hanya urusan tangan, tetapi juga urusan pikiran. Dengan memadukan latihan fisik dan simulasi mental, seorang kaligrafer menjaga keterampilannya tetap hidup—bahkan ketika pena tak berada di genggaman.
===============================
(Tamrin Bashori, Berlatih Kaligrafi Tanpa Pena ) originally posted by Seni Kaligrafi Islam. Artikel ini ditulis dengan memperhatikan sumber sumber yang tercantum dibawah ini.
- beberapa sumber online
This Blog/Web Site is made for educational purposes only as well as to give you general information. All materials are properties of their respective owners If you own the copyright to this file/image and you do not wish it be included on our website, please contact us and we will remove it as soon as possible
Situs web/blog ini dibuat semata-mata untuk tujuan pendidikan serta memberikan informasi umum. Seluruh materi adalah milik dari pemilik haknya masing-masing. Apabila Anda adalah pemegang hak cipta atas berkas/gambar ini dan tidak berkenan untuk ditampilkan di situs kami, silakan hubungi kami, dan kami akan segera menghapusnya.
please contact us : subhi.link@gmail.com
