Friday, February 27, 2015

Biografi Hamid Al Amidi

Hamid Al Amidi Rahimahullah

 Hamid Al Amidi, seorang kaligrafer ternama yang di gelari "syeikhul khattatin" (gurunya para khattat). Dia menguasai seluruh cabang kaligrafi dengan baik, namun ia lebih dikenal rajanya tsuluts jaliy. Karyanya yang dipublikasikan antara tahun 1923 - 1965, menunjukkan kelasnya sebagai seniman kaligrafi tingkat dunia. Dia tidak pernah sekalipun meninggalkan penanya. Sampai menjelang wafat ia masih menulis, hanya saja karyanya tidak seperti kala ia muda. Usia tua telah mengalahkannya. Anda dapat menyaksikan video dokumenter  Hamid Al Amidy menjelang dia wafat berikut ini :



"Barangkali tulisannya pernah kita contoh untuk latihan.  Ya..tulisannya memang sangat indah dan tersiar ke penjuru dunia.  Tanda tangan beliau yang khas adalah identitas bagi seluruh karyanya".  

Hamid al Amidi lahir di kota Diyar Bakr Turki (yang dulu dikenal sebagai kota Amid) sebelah tenggara kota Anatolia, Turki tahun 1309 H/1891 M. Ayahnya bernama Dzul Faqar dan Ibunya bernama Muntaha. Nama aslinya adalah Musa Azmi. Beliau juga dikenal dengan nama Hamid Aitac. Nama inilah yang kemudian ia pakai dalam nama penanya, Hamid al-Amidi. Sedangkan nama asli beliau, Azmi, sering ia pakai dalam tauqi’ pada karya-karya beliau sewaktu muda. Dan ketika masa tua, beliau lebih suka memakai nama sebutan beliau, Hamid. 
" Ketika saya masih ber'azam (bertekad) untuk belajar kaligrafi, namaku Azmi. Setelah aku mencapai apa yang aku inginkan, aku memuji Tuhanku, maka namaku Hamid."

Hamid lebih terkenal dengan kepiawaiannya dalam khat tsulust jali. Bakat kaligrafinya mungkin didapat dari kakeknya Adam al Amidi yang juga seorang kaligrafer. 


Dia mulai menerima pelajaran di kaligrafi selama pendidikan dasar dan sekolah persiapan dari "Mustafa Akif".

Minat Hamid dalam kaligrafi membuat dia gagal di tahun pertama studinya. Jadi, ayahnya melarang dia berlatih kaligrafi. Namun ayahnya menarik keputusannya itu setelah Hamid mendapat hadiah satu Lira emas atas partisipasinya dalam kegiatan menulis kaligrafi yang dipersembahkan untuk Sultan Abdul Hamid II yang diadakan disekolahnya. Saat itu Hamid berupaya menulis Tughra untuk sultan yang ternyata disukai oleh pejabat setempat. 

Sejak itu Hamid makin tekun belajar kaligrafi. Ia banyak meniru karya-karya kaligrafi terkenal seperti "Hafiz Osman", "Mustafa Rakim" dan lain-lain.


Pada tahun 1906, Ia menyelesaikan sekolah dasar. Kemudian menyelesaikan studi menengah di "sekolah militer Rashidiya di Diyar-e-Bakr". 


Selama studi di sekolah  militer Rashidiya ini, dia belajar khat tsuluts kepada "Ahmad Hilmi Bik" dan belajar khat riq'ah kepada Wahid Affandi . Saat itulah ia menghiasi peta atlas milik sekolahnya dengan tulisan yang sangat teliti dan indah yang membuat guru gurunya terkagum kagum dan menyimpan atlas itu di musium sekolah.

Hamid terpaksa putus sekolah setelah ayahnya meninggal dunia. Ia berjuang menyambung hidupnya dengan bekerja sebagai guru khat di sebuah sekolah. Kemudian ia bekerja di percetakan pada usia antara 17-18. Ia mulai bekerja sama dengan kaligrafer "Amin Affendi", disebuah percetakan milik militer.
by : Sajjad Khalid
Kemudian, ia pergi ke Jerman di mana ia tinggal selama satu tahun mempelajari rancangan peta  di Angkatan Perang Jerman selama Perang Dunia Pertama. Setelah kembali ke Istambul, ia mendalami Tsuluts Jaly pada Haji Nadzif Bik, belajar Tughra' pada Ismail Haqqy, dan belajar khat Farisi kepada Khulusy Afandi. 
Kecintaannya pada kaligrafi menyebabkannya mengundurkan diri dari semua jabatan resminya pada tahun 1920. Ia memilih membuka sebuah "warung" tempatnya membuat karya karya kaligrafi. 
Peninggalannya adalah banyak tulisan al Qur'an dan Hadis, diantaranya 2 mushaf al Qur'an. Salah satu karyanya yang paling monumental adalah tulisan Surat Al Fatihah yang merupakan replika dari karya Musthafa Raqim yang ia tulis selama enam bulan (wow...). 


"Suatu hari Hamid Al Amidi bermimpi bertemu dengan shahabat karibnya, kaligrafer Halim yang telah wafat. Halim dalam mimpinya itu menulis khat tsuluts dengan sangat cepat. Hamid bertanya, kok bisa seperti itu ? Halim menjawab : Disurga, kaligrafi diajarkan seperti ini. Setelah mimpi itu, Hamid selalu mengulang ulang : "Bila di surga masih ada bambu dan kertas, aku tidak peduli pada kematian". 

Hamid al Amidi meninggal dunia pada hari Rabu 19 Mei tahun 1982, dimakamkan di sebelah makam kaligrafer Hamdullah Al Amasi
.
Murid muridnya yang paling terkenal antara lainMustafa Halim Afendi,  Ahmad Zia Ibrahim,  Hashim Muhammad Baghdadi, dan  Mina Ko dari Jepang.

Sumber : berbagai artikel  terutama : Hiba Studio
Sumber foto  : www.draw-art.com

Lihat karya karyanya :